Thursday, August 09, 2012

Monday, July 30, 2012

Akhirnya Lawang Sewu!

Ditengah-tengah ribetnya per-tugas-akhir-an, saya pergi berlibur singkat ke Jogjakarta bersama adik saya yang datang dari Padang. Hanya dua hari saja, dan sore terakhirnya diisi di Semarang!
Tak ada rencana yang matang sebelumnya, dengan merental mobil kami berempat pergi dari pantai di selatan Jogjakarta (bukan Pantai Parangtritis), ke Magelang, dan lanjut ke Semarang, hanya untuk berwisata malam di Lawang Sewu yang terkenal bersejarah dan angker tersebut.
Beruntung sekali, kami tepat sampai di Lawang Sewu setengah jam menjelang gedung besar yang terletak di pusat Kota Semarang tersebut tutup. Dengan membayar sepuluh ribu rupiah per orang, dan tiga puluh ribu rupiah untuk jasa seorang pemandu, wisata malam itu pun di mulai.
Saya yang tidak pemberani ini pun lumayan bergeming, baru saja memasuki pekarangannya saja kaki saya sudah berat dan bulu remang sudah merinding. Memang benar cerita orang-orang, Lawang Sewu ini sangat kental aura mistisnya. 
Lawang Sewu terdiri dari dua gedung, yaitu gedung A dan gedung B. Gedung A merupakan gedung peninggalan masa penjajahan Belanda yang dulunya hanya dipergunakan sebagai perkantoran, sedangkan gedung B merupakan gedung peninggalan masa penjajahan Jepang, yang menjadi tempat penyiksaan, seperti yang kita ketahui, meskipun Belanda lebih lama menjajah Indonesia, namun pada masa penjajahan Jepang lah kita lebih tersiksa. 
Sayang sekali gedung A sedang ditutup karena renovasi. Maka dengan cantiknya kami pun memasuki dan menyisir gedung B, bersama seorang pemandu tentunya.
Gedung-gedung di Lawang Sewu sengaja dibiarkan remang-remang, saya tidak tahu apakah untuk mendukung 'keangkeran'nya, atau bagaimana saya juga tidak terlalu banyak bertanya. Kami pun dipandu mengelilingi masing-masing ruangan, diceritakan bagaimana kisah ruangan tersebut dahulunya, dan ditakut-takuti oleh beberapa lelucon yang tak lucu menurut saya. Sampai pada puncaknya, yaituuuuu PENJARA BAWAH TANAH! Yang pernah menjadi tempat uji nyali sebuah stasiun tv swasta, dan peserta nya menyerah karena di'gangguin'. Dengan membayar sepuluh ribu per orang untuk menyewa sepatu boots dan senter (karena memang dibawah tanah tersebut terdapat genangan air dan lampunya lagi-lagi remang-remang), kita sudah bisa mengelilingi setiap pelosok penjara bawah tanah tersebut. Hingga tiba di satu ruangan sempit yang langit-langitnya rendah -yang mereka sebut dengan penjara jongkok- dan merupakan tempat ter-angker disana, disaat lampu sudah mati dan penerangan kami hanya empat biji senter, sang pemandu berkata seperti ini, "Mba, coba mba matikan lampu senternya tiga detik saja mba, mba pasti bisa merasakan kehadiran mereka". Yakali deh ingin merasakan kehadiran mereka, wong semenjak masuk saja saya sudah ketakutan setengah mati dan berdoa semoga tak bertemu yang aneh-aneh!. Boro-boro mau matiin lampu senter, saya dan adik saya sudah panik minta langsung diajak keluar dari ruangan bawah tanah tersebut.
Sampai akhirnya kami keluar dan kembali ke daerah pekarangan, yang tetap saja bersuasana mistis. Setelah berfoto-foto beberapa petik saja (karena takut tertangkap yang aneh-aneh), kamu menyudahi wisata malam yang luar biasa tersebut. Ini adalah salah satu foto didepan gedung yang memiliki kaca ukiran yang terkenal sangat antik.


Thursday, June 14, 2012

dear Mr. President

Andaikan bisa ngirim surat, diterima, dan dibaca langsung oleh presiden, pengen deh saya kirimkan!
Belakangan kekecewaan terhadap pemerintah (lagi-lagi) menghampiri saya. Bukan tanpa alasan pastinya. Kemarin sewaktu lagi iseng-iseng ngobrol dengan mba di kosan, mba bilang bahwa biaya masuk sma negeri lebih mahal dari sma swasta. Spontan saya kaget. Kalau jaman saya dulu sma sih, sma swasta masih lebih mahal dari negeri, dan emang sudah sewajarnya seperti itu. Bukan hanya itu, biaya masuk itb pun sekarang semakin naik, kurang lebih lima puluh juta untuk setiap mahasiswa baru. Memang sih beasiswa bergelimpangan, tapi pada kenyataannya, untuk mendapatkan beasiswa itu pun tidak gampang. Bagaimana dengan keluarga yang tidak termasuk kategori miskin namun tanggungannya banyak. Ga masuk akal sih masuk perguruan tinggi negeri saja harus mengeluarkan puluhan juta. Entah mungkin pengetahuan saya yang minim dengan bagaimana kondisi sebenarnya di lapangan. Dan semoga memang pengetahuan saya yang minim. 
Saya amat sangat tidak mengerti dengan pemerintah. Apa emang sesulit itu prosedur untuk menyediakan bantuan sekolah untuk orang yang tidak mampu? Atau masyarakat yang tidak mampunya yang kurang mencari tau dan berusaha? Atau sebanyak itu orang-orang tamak di dalam pemerintahan kita?
Dua kasus tersebut hanya segelintir permasalahan yang terjadi sekarang. Dan itu baru dari segi pendidikan. Belum lagi masalah kesehatan, tempat tinggal, air bersih, hukum, aduh banyak deh. Daripada percaya dan menunggu kesadaran pemerintah, mending kita melakukan pergerakan sendiri sebisanya!

"What do you feel when you see all the homeless on the street? Who do you pray for at night before you go to sleep? What do you feel when you look in the mirror? Are you proud? How do you sleep while the rest of us cry? How do you dream when a mother has no chance to say goodbye? How do walk with your head held high? Can you even look me in the eye, and tell me why?" - Dear Mr. President, P!nk.

Monday, June 04, 2012

Akhirnya sepedaan juga!

Setelah melalui masa tiga tahun sepuluh bulan menetap di Kota Bandung, akhirnya saya sepedaan juga! (lame, haha)
Yaah tak lain dan tak bukan ini karena status sebagai mahasiswa tingkat akhir yang kurang kerjaan, akhirnya kami pun bersepeda juga setelah sepuluh juta kali direncanakan dan sepuluh juta kali juga gagal.
Dengan meminjam sepeda agni, di hari minggu nan cerah, saya pun berangkat dari kosan sekitar pukul tujuh pagi menuju meeting point yang direncanakan yaitu didepan siete cafe dago. Disana sudah ada christine dan putu yang menunggu, sedangkan bella dan neng menunggu di gerbang kampus. 
Setelah pasukan terkumpul, kami langsung gowes! Perjalanan yang akan dituju yaitu : kampus-braga-sarapan di roti gempol-pulang. Terdengar sederhana, tapi percaya ga percaya, pulangnya saya langsung tepar, haha.
Sebagai pemula dalam hal persepedaan, ke braga lalu ke roti gempol (di jalan ranggagempol, deket movie room, masuknya bisa dari total buah) bukanlah pilihan yang bijak menurut saya. Ke braga nya sih enak jalanannya menurun, dari braga ke roti gempol-nya sih, ditambah lagi jalanan menuju kosan saya yang berada di jalanan dago yang notabene menanjak. Tapi saya cukup puas dengan sepedaan perdana kali ini. 
Oh iya, bagi yang belum tau, Roti Gempol merupakan toko homemade bread. Recommended banget deh buat sarapan. Dan kabar-kabarnya, toko tersebut sudah berdiri sejak tahun 1958! Saya sendiri langsung jatuh hati dengan tempatnya yang vintage dan rotinya yang enyaak :3. Kalau kata putu dan bella sih, saus sambelnya enak banget. Tapi saya lebih merekomendasikan roti bakar gandum isi coklat kacang susu nya :3 (langsung ngiler deh). Berhubung kemarin saya lupa mengambil gambar disana karena udah keasyikan makan (padahal udah tepar dan ga bertenaga), saya ijin nyaplok gambar dari blog orang lain, hehe. Kan ga seru saya udah muji-muji tapi gambarnya ga ada, nanti dikira hoax. Tapi kalau yang sepedaan gambar asli kok, haha.

Sepedaan di Braga :)

roti bakar gandum

suasana vintage di dalam toko :)

Sunday, June 03, 2012

session two

So, what's up now? I don't know why I have to write in here instead of asking her.
But for God's sake, WHATS GOING ON? WHATS THE MATTER? SHOULD WE ALWAYS BE AWKWARD WHEN YOU ARE NOT IN YOUR GOOD MOOD? I am so sick of this situation

Saturday, June 02, 2012

Failure is simply the oppurtunity to begin again. This time, more intelligently. Henry Ford

Saturday, May 26, 2012

life?

Hari ini saya dan teman-teman akhirnya menjadi job seeker juga. Meskipun kami pada belum lulus, tapi berhubung lagi ada job fair di ITB, mau tak mau, suka tak suka, kaki dan otak pun tergerak untuk mengikutinya. Berhubung fakta menyatakan bahwa kami adalah mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan lulus.
Saya ga pernah berpikir bahwa mencari kerja itu sungguh, saya ulangi lagi, sungguh sulit. Awalnya karena sedikit banyak adanya arogansi sebagai almamater ITB -"ya perusahaan mana sih yang ga tertarik sama almamater ITB"- setelah umur sedikit beranjak dewasa pikiran itu berubah menjadi -"yang kaya almamater ITB banyak amat yak"- 
Kemarin sih saya tidak terlalu tertarik dengan keberadaan job fair ini, berhubung waktu kelulusan saya yang sudah pasti tertunda hingga April 2013, tapi melihat pergerakan teman-teman sekitar, ga bisa dibohongi kalau darah ini berdesir juga. Akhirnya, berakhirlah saya di Altim dan Albar ITB beramai-ramai mendatangi booth-booth perusahaan-perusahaan itu. Barulah saya sadar, mencari kerjaan itu ga gampang. Meskipun saya memegang ITB sebagai background, meskipun saya merasa memiliki skill, tapi orang yang memiliki background universitas yang unggul dan skill yang bagus seperti saya ada seribu diluar sana. Dan seribu orang itu pun berpacu mendapatkan tempat di perusahaan yang diinginkannya.
Yah setidaknya ikut serta di job fair kali ini bisa memberikan banyak manfaat untuk mengikuti job fair berikutnya, haha. Dan setidaknya lagi, pikiran saya lebih terbuka, yah inilah hidup yang sebenarnya, keluhan-keluhan tentang stres bikin laporan, stres selama jadi BP di himpunan, stres dengan ujian, stres TA dan pembimbing ga ada apa-apanya deh dengan stres nyari kerja. Dan yang lebih bikin stres lagi, saya sudah mulai memasuki fase itu!

Wednesday, May 23, 2012

the problem is...

...we are not a cycle like the seasons, ha ha

Sunday, May 13, 2012

Somebody said, if you still hurt, then you still care. No no, I am not that hurt, I just feel annoyed.
But ya, in the end, I just run from the fact that I still care. Lame

Friday, April 27, 2012

Liburan singkat (lagi) ke Pameungpeuk

Kayanya saya bentar lagi bisa jadi anak pantai nih, bulan lalu ke Pantai Sawarna, nah bulan sekarang ke Pantai Santolo di Pameungpeuk, Garut. Lagi-lagi tanpa rencana dan dadakan.
Berawal mula dari perbincangan anak-anak yang lagi stress TA maka berangkatlah saya, bella, christine, wawang, dan regi ke Pameungpeuk, dihari Selasa nan indah permai dimana esok harinya ada presentasi di kuliah wajib.
Perjalanan ke Pameungpeuk dari Bandung hanya memakan waktu 5 jam, dimana Bandung-Garut 2 jam, dan Garut-Pantai Santolo (Pameungpeuk) 3 jam. Di Garut kita beristirahat dan makan di rumah regi yang kebetulan memang berdomisili di kota tersebut. Jalanannya lebih mulus daripada perjalanan Bandung-Sawarna, namun lebih berkelok-kelok, saya yakin bagi kalian yang mabuk darat, kalian pasti sudah pusing dan muntah.
Sampai di Pameungpeuk hari sudah gelap, kami langsung mencari penginapan, poin plus-nya lagi dari Pameungpeuk adalah sudah banyak tersedia penginapan-penginapan (yang bukan rumah warga). Dengan hanya membayar 200rb per malam kami sudah mendapatkan kamar dengan fasilitas AC dan TV, dan sangat dekat dengan tepi pantai. Keesokan harinya kita langsung saja menikmati keindahan pantai santolo di pameungpeuk tersebut. 
Saya tidak tahu apakah karena kami datang di hari biasa atau memang biasanya pantainya begitu sepi, jujur saja saya sangat puas dengan perjalanan yang sangat singkat kemarin. Serasa sedang berlibur di pantai pribadi, kemana kami melangkah hanya kami berlima (plus beberapa nelayan pastinya) yang berada di pantai tersebut. Karena saya baru saja dari Sawarna, tentu saja mau tak mau saya akan membandingkannya dengan Santolo di Pameungpeuk ini. Yang menjadi kelebihan dari Pantai Santolo adalah airnya yang lebih jernih dan tepian pantai yang bersih serta penginapan yang lebih murah jika dilihat dari fasilitas yang didapat. Sedangkan kelebihan Pantai Sawarna adalah pasirnya yang lebih cerah dan gugusan batu karangnya yang lebih indah.
Yaah setidaknya lumayan meringankan kepala yang memang sudah penuh dengan perintilan-perintilan tugas akhir. Meskipun sempat mengalami sedikit kejadian menegangkan. Dimana karena keasyikan main ombak, barang-barang yang kami tinggalkan begitu saja di tepi pantai terbawa ombak dan berhamburan kemana-mana. Salah satu barang yang hanyut tersebut adalah KUNCI MOBIL. Udah ga ngerti lagi gimana kejadiannya kalau si kunci mobil itu ga ketemu. Ketemunya pun disela-sela batu karang, untung Tuhan masih sayang dengan kami, haha.







mainstream