Thursday, May 26, 2011

Makan gila!

Yak, UAS SELESAAAI! Tapi ga sesenang itu rasanya, karena tiap hari harus ke kampus juga ngurus KP, bimbingan dan sebagainya. Ditengah-tengah ke-hectic-an bimbingan KP, keluhan tentang dosen pembimbing, terus ribet-ribetan photo session untuk online shop kami, titi bella dan putu pun sempet-sempetnya makan (kuli) ke HDL! Untuk yang tinggal di Bandung pasti udah tau tenarnya Seafood HDL Cilaki ini.
Dan kami bener-bener makan kaya kuli, sampai-sampai mau muntah saking penuhnya perut.
And the winner is.......Bella Tobing
Haha, dia makan kerang kaya makan permen, tumpukan kulit kerangnya paling banyak!
Kalau kata bella putu sih, makan enak dulu sebelum ke "pedalaman". Iya emang, mereka ke pedalaman Kalimantan.

Hasil ke-brutal-an

Sisa makanan titi

Sisa makanan putu

Sisa makanan bella, the queen of scallop

Saturday, May 14, 2011

another inspiring story

Tergelitik dengan pesan yang dikirimkan ke mailist HMTL dari Rahmat Danu Andika (senior di TL ITB, angkatan 2004) yang lagi jadi guru utusan dari Indonesia Mengajar di Desa Pelita. Bagi yang ga tau, Desa Pelita adalah sebuah desa di sebuah pulau terpencil yang bernama Mandioli yang terletak di Propinsi Maluku Utara, Indonesia. Yang cuma bisa diakses melalui sebuah dermaga kecil menggunakan perahu lokal.

Berdasarkan cerita Ngkong-panggilan akrabnya-, ga seperti namanya, Desa Pelita cuma 'terang' 5 jam saja dan di malam hari saja. Itupun berkat bantuan beberapa penduduk sekitar yang memiliki mesin diesel sebagai generator listrik. Disana mereka ga ngerti dan ga peduli tuh dengan yang namanya Gayus Tambunan, Royal Wedding, dan segala macam isu yang ada di kota. "Ya wajarlah, wong tempatnya terpencil gitu". Saya rasa sebagian dari yang baca tulisan ini akan berpikir seperti itu. 

Ngkong bilang, disana mereka bisa dikatakan mandiri. Kebun-kebun disana (masyarakatnya disana mayoritas berkebun, meskipun desa mereka berada di pinggir laut yang jernih dan kaya ekosistem lautnya) masih cukup untuk memberi makan sekitar 200 kepala keluarga. Mereka juga punya sekolah, ya meskipun ga se-canggih dan se-komplit sekolah di kota. 
Tapi dibalik comfort zone mereka tersebut, ada hal yang menyentil.

Ini masih berdasarkan cerita Ngkong. Anak-anak desa pelita merupakan anak-anak yang bersemangat dan cerdas dengan segala kemampuan motoriknya yang luar biasa. Saya setuju dengan pernyataan Ngkong, yang bilang : "Mereka memang bahagia, tapi kenapa mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan seperti yang -paling tidak- saya dapatkan dulu? Kenapa kesempatan untuk bisa belajar dan  berbuat banyak hal seolah-olah jauh dari anak-anak ini?". 

Potongan tulisan lain yang membuat saya entah mengapa menitikkan air mata yaitu : 
"Tiap kali anak-anak penasaran terhadap sesuatu yang saya ceritakan tentang apapun, tiap kali mata mereka berbinar dan mereka bertanya “Jakarta itu seperti apa Pak Guru?”, “kalau torang mau ke Amerika itu naik apa Pak Guru? bisa naik ketinting ka tarada?” atau celetukan-celetukan yang bilang jika mereka besar nanti mereka ingin kuliah di Bandung seperti pak guru, itu adalah sumber energi. Anak-anak yang polos dengan bakat-bakat luar biasa yang sebenarnya ingin diberitahu banyak hal, tapi sayangnya belum terpenuhi karena keterpencilannya."

Sebenarnya tak banyak yang bisa ceritakan dan ucapkan, karena memang saya sendiri tidak merasakan berada langsung di tengah-tengah mereka. Tapi sedikit cerita dari Ngkong benar-benar menginspirasikan saya. 

Jujur saya bukanlah mahasiswi dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, bahkan jujur-jujur saja, saya berpikir untuk tidak tinggal lama di Indonesia ini. Jika ada waktu dan kesempatan saya akan membawa semua keluarga saya untuk keluar dari Indonesia ini. Negara kelahiran saya ini. 

Siapa sih yang mau tinggal di negara yang udah hilang moralnya. Yang untuk membangun gedung "wakil rakyat" saja harus menghabiskan uang milyaran rupiah sedangkan milyaran "rakyat" yang katanya diwakilkannya itu sedang kelaparan dan kesusahan. 
Siapa yang mau tinggal di negara yang bahkan ketika rakyatnya saja sudah bebas berpendapat, mencaci-maki kelakuan minus mereka, tapi mereka, para "wakil rakyat", tetap aja dengan kelakuan minusnya. 
Siapa yang mau tinggal di negara yang sibuk minta kenaikan gaji, ganti mobil dinas yang mewah, perangkat kenegaraan yang terbuat dari emas, sedangkan pendulang emas untuk plakat mereka itu sedang menguras keringat hanya untuk membawa pulang se-liter beras murah. 
Seakan-akan mereka ga punya mata dan telinga. Dan hati. 

Ah ga tau lah, saya bukan mahasiswi politik yang paham mengenai kenegaraan, saya juga bukan mahasiswi hukum yang ngerti tentang hukum seharusnya, saya juga bukan volunteer sebuah lembaga sosial masyarakat yang membantu masyarakat tertinggal, ya setidaknya saya salah satu bagian kecil dari Indonesia ini.

Tapi setelah mendengar kisah Ngkong, saya pun merasa tersentil. Kenapa saya menilai Indonesia dari topeng besar yang udah bobrok itu ya. Kenapa saya tidak melihat ke wajah-wajah tak bertopeng yang masih polos lainnya. Sepertinya, perasaan 'ingin meninggalkan' ini sedikit menghilang.

Waw, semuanya keluar begitu saja. Maaf jika ada yang tersinggung atau merasa saya berlebihan. Masing-masing orang bebas berpendapat bukan? Hehe :D

Okay, kembali ke kisah inspiratif dari Desa Pelita oleh Ngkong.
Sedikit kutipan pesan dari Ngkong yang mudah-mudahan bisa menggerakkan kalian juga.

"Keinsyafan bahwa keilmuan yang kita miliki haruslah berguna untuk mengangkat bangsa ini, tinggi. Supaya nantinya dimanapun kita berada, kita akan berkarya dengan wawasan ke-Indonesia-an yang lebih luas. 
Optimisme adalah pondasi gerakan ini. Optimisme perubahan. Keyakinan bahwa harus ada orang-orang yang mulai menyalakan lilin ditengah kegelapan yang sedang melanda dan suara nyaring saling menyalahkan. Dan seperti virus, optimisme ini menular. Sampai tiba saatnya semua orang akan sibuk menyalakan lilinnya ditengah kegelapan. Saya percaya.
Seperti yang Pak Anis Baswedan tulis dulu, para ibu di republik ini tidak pernah berhenti melahirkan anak-anak luar biasa. Disini saya lihat anak-anak luar biasa itu terjauhkan dari kesempatan karena keterpencilannya. Karena ternyata Republik ini belum mampu membayar janji merdekanya 65 tahun yang silam. Masalah negara kita memang banyak, banyak sekali. Jadi marilah mulai menyalakan lilin untuk menerangi hati yang gelap, menenangkan jiwa yang kalut, dan membunuh pasrah yang tumbuh. Sampai nanti, Indonesia merdeka.
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater"
Sedikit dokumentasi yang saya ambil dari akun facebook nya Ngkong :P
SDN Ambatu Pelita :)

Kegiatan anak-anak SD selama proses belajar mengajar


Di ujung jalan merupaka dermaga, satu-satunya akses keluar masuk Desa Pelita








Upacara bendera :D


Kepala Sekolah SDN Ambatu Pelita beserta istri dan anaknya



Hallo selamat magrib di Bandung.

Tadi tiba-tiba ada jarkom yang bilang UAS hari Senin diundur, karena adanya CUTI BERSAMA, jadi pegawai-pegawai TU, dosen, dan sekitarnya libur. Jadilah seharian ini saya nyampah. Gapapa deh itung-itung istirahat dari  6hari-6malam nonstop belajar dan cuma tidur 3 jam tiap harinya.
Saya bingung deh kenapa harus ada cuti bersama, bahasa lainnya harpitnas deh, atau bahasa yang lebih Indonesia lagi : hari terjepit nasional. Kenapa coba dengan kejepit, terus diliburin. Cuma di Indonesia kayanya yang ada harpitnas. Hm agak terlihat sih mental masyarakat Indonesia jadinya. 
Okay forget about Indonesia-and-our-harpitnas.

Semalem saya mimpi. Ada iaz, gilang, haecal. Udah yang keberapa kali dalam beberapa hari ini. Sebelumnya, juga pernah ada tika, dung2, wina. Aneh ya? Menurut saya sih iya. Karena udah berkali-kali, dengan cerita yang berbeda-beda, dan terasa sangat nyata. Terus saya mikir, kenapa bisa?

Kata orang sih, biasanya apa yang kita pikirkan sebelum tidur bisa kebawa mimpi. Tapi sebelum tidur saya ga mikirin iaz atau gilang. Berarti teori itu salah.
Ada juga yang bilang, karena terlalu sering mikirin hal/orang itu (ga cuma sebelum tidur aja), jadilah kebawa mimpi. Tapi saya juga ga sesering itu mikirin -contohnya- iaz, gilang atau haecal atau siapapun apapunlah. Berarti teori itu juga salah.
Ada lagi yang bilang karena kita kangen dengan hal/orang itu, jadi kebawa mimpi deh. Okay yang ini agak masuk akal kayanya.
Tapi kalau dari beberapa artikel yang saya baca sih, katanya belum ada ilmuwan atau peneliti yang benar-benar bisa mecahin fenomena mimpi sebenarnya. 

Okay daripada memusingkan hal yang ga perlu dipusingkan karena emang udah banyak hal yang memusingkan (jadi pusing kan? haha), saya caplok teori ketiga. 
Benar sekali kalau saya kangen iaz, gilang, dung2, tika, sherly, acong dan (bukan) temen temen main (biasa) lainnya, dan haecal deng (ups hahaha).

Kata orang lagi nih, ada yang namanya "temen", cuma temen, beneran temen, dan bukan temen biasa. Menurut saya sih mereka bukan temen biasa saya, yah kalau temen itu tingkat 3, beneran temen tingkat 2, maka bukan temen biasa adalah tingkat 1. Kenapa? Simple sih, karena kualitas. Hehe

Jadi inti dari posting-an ini adalah : saya kangen mereka! Apalagi kamu yang sangat jauh disana. I miss you :(

Monday, May 02, 2011

Welcome hectic May!

May, welcome May!
Ga kerasa minggu depan udah UAS, iya UAS, UJIAN AKHIR SEMESTER! Baru juga kemarin rasanya mulai semester 6.
Dan yang lebih waw lagi, akhir bulan nanti, saya yoel dan neng udah berangkat ke BALIKPAPAN untuk KP, KERJA PRAKTEEEKKK! (panik sendiri)
Di Balikpapan dua bulan gimana rasanya ya, stay tuned terus di blog ini biar tau gimana rasanya dua bulan kerja di Pertamina Balikpapan, haha. Antara senang, dan deg-deg an.
Dan yang lebih waw waw lagi, pulang dari KP udah Bulan Ramadhan, terus Lebaran deeeh. 
Emang waktu berjalan amat sangat cepat ya. Ya semoga lebih cepat berjalan dan segera melepas jabatan. Entah kenapa saya rasa waktu nya ga pas, disaat saya lagi pusing dan bosen-bosennya kenapa saya malah nerima jabatan penting ya, hmmmp (curcol).
Udah ah, ayo semangat kristy!