Berdasarkan cerita Ngkong-panggilan akrabnya-, ga seperti namanya, Desa Pelita cuma 'terang' 5 jam saja dan di malam hari saja. Itupun berkat bantuan beberapa penduduk sekitar yang memiliki mesin diesel sebagai generator listrik. Disana mereka ga ngerti dan ga peduli tuh dengan yang namanya Gayus Tambunan, Royal Wedding, dan segala macam isu yang ada di kota. "Ya wajarlah, wong tempatnya terpencil gitu". Saya rasa sebagian dari yang baca tulisan ini akan berpikir seperti itu.
Ngkong bilang, disana mereka bisa dikatakan mandiri. Kebun-kebun disana (masyarakatnya disana mayoritas berkebun, meskipun desa mereka berada di pinggir laut yang jernih dan kaya ekosistem lautnya) masih cukup untuk memberi makan sekitar 200 kepala keluarga. Mereka juga punya sekolah, ya meskipun ga se-canggih dan se-komplit sekolah di kota.
Tapi dibalik comfort zone mereka tersebut, ada hal yang menyentil.
Tapi dibalik comfort zone mereka tersebut, ada hal yang menyentil.
Ini masih berdasarkan cerita Ngkong. Anak-anak desa pelita merupakan anak-anak yang bersemangat dan cerdas dengan segala kemampuan motoriknya yang luar biasa. Saya setuju dengan pernyataan Ngkong, yang bilang : "Mereka memang bahagia, tapi kenapa mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan seperti yang -paling tidak- saya dapatkan dulu? Kenapa kesempatan untuk bisa belajar dan berbuat banyak hal seolah-olah jauh dari anak-anak ini?".
Potongan tulisan lain yang membuat saya entah mengapa menitikkan air mata yaitu :
"Tiap kali anak-anak penasaran terhadap sesuatu yang saya ceritakan tentang apapun, tiap kali mata mereka berbinar dan mereka bertanya “Jakarta itu seperti apa Pak Guru?”, “kalau torang mau ke Amerika itu naik apa Pak Guru? bisa naik ketinting ka tarada?” atau celetukan-celetukan yang bilang jika mereka besar nanti mereka ingin kuliah di Bandung seperti pak guru, itu adalah sumber energi. Anak-anak yang polos dengan bakat-bakat luar biasa yang sebenarnya ingin diberitahu banyak hal, tapi sayangnya belum terpenuhi karena keterpencilannya."
Sebenarnya tak banyak yang bisa ceritakan dan ucapkan, karena memang saya sendiri tidak merasakan berada langsung di tengah-tengah mereka. Tapi sedikit cerita dari Ngkong benar-benar menginspirasikan saya.
Jujur saya bukanlah mahasiswi dengan jiwa nasionalisme yang tinggi, bahkan jujur-jujur saja, saya berpikir untuk tidak tinggal lama di Indonesia ini. Jika ada waktu dan kesempatan saya akan membawa semua keluarga saya untuk keluar dari Indonesia ini. Negara kelahiran saya ini.
Siapa sih yang mau tinggal di negara yang udah hilang moralnya. Yang untuk membangun gedung "wakil rakyat" saja harus menghabiskan uang milyaran rupiah sedangkan milyaran "rakyat" yang katanya diwakilkannya itu sedang kelaparan dan kesusahan.
Siapa yang mau tinggal di negara yang bahkan ketika rakyatnya saja sudah bebas berpendapat, mencaci-maki kelakuan minus mereka, tapi mereka, para "wakil rakyat", tetap aja dengan kelakuan minusnya.
Siapa yang mau tinggal di negara yang sibuk minta kenaikan gaji, ganti mobil dinas yang mewah, perangkat kenegaraan yang terbuat dari emas, sedangkan pendulang emas untuk plakat mereka itu sedang menguras keringat hanya untuk membawa pulang se-liter beras murah.
Seakan-akan mereka ga punya mata dan telinga. Dan hati.
Siapa yang mau tinggal di negara yang bahkan ketika rakyatnya saja sudah bebas berpendapat, mencaci-maki kelakuan minus mereka, tapi mereka, para "wakil rakyat", tetap aja dengan kelakuan minusnya.
Siapa yang mau tinggal di negara yang sibuk minta kenaikan gaji, ganti mobil dinas yang mewah, perangkat kenegaraan yang terbuat dari emas, sedangkan pendulang emas untuk plakat mereka itu sedang menguras keringat hanya untuk membawa pulang se-liter beras murah.
Seakan-akan mereka ga punya mata dan telinga. Dan hati.
Ah ga tau lah, saya bukan mahasiswi politik yang paham mengenai kenegaraan, saya juga bukan mahasiswi hukum yang ngerti tentang hukum seharusnya, saya juga bukan volunteer sebuah lembaga sosial masyarakat yang membantu masyarakat tertinggal, ya setidaknya saya salah satu bagian kecil dari Indonesia ini.
Tapi setelah mendengar kisah Ngkong, saya pun merasa tersentil. Kenapa saya menilai Indonesia dari topeng besar yang udah bobrok itu ya. Kenapa saya tidak melihat ke wajah-wajah tak bertopeng yang masih polos lainnya. Sepertinya, perasaan 'ingin meninggalkan' ini sedikit menghilang.
Waw, semuanya keluar begitu saja. Maaf jika ada yang tersinggung atau merasa saya berlebihan. Masing-masing orang bebas berpendapat bukan? Hehe :D
Okay, kembali ke kisah inspiratif dari Desa Pelita oleh Ngkong.
Sedikit kutipan pesan dari Ngkong yang mudah-mudahan bisa menggerakkan kalian juga.
"Keinsyafan bahwa keilmuan yang kita miliki haruslah berguna untuk mengangkat bangsa ini, tinggi. Supaya nantinya dimanapun kita berada, kita akan berkarya dengan wawasan ke-Indonesia-an yang lebih luas.
Optimisme adalah pondasi gerakan ini. Optimisme perubahan. Keyakinan bahwa harus ada orang-orang yang mulai menyalakan lilin ditengah kegelapan yang sedang melanda dan suara nyaring saling menyalahkan. Dan seperti virus, optimisme ini menular. Sampai tiba saatnya semua orang akan sibuk menyalakan lilinnya ditengah kegelapan. Saya percaya.
Seperti yang Pak Anis Baswedan tulis dulu, para ibu di republik ini tidak pernah berhenti melahirkan anak-anak luar biasa. Disini saya lihat anak-anak luar biasa itu terjauhkan dari kesempatan karena keterpencilannya. Karena ternyata Republik ini belum mampu membayar janji merdekanya 65 tahun yang silam. Masalah negara kita memang banyak, banyak sekali. Jadi marilah mulai menyalakan lilin untuk menerangi hati yang gelap, menenangkan jiwa yang kalut, dan membunuh pasrah yang tumbuh. Sampai nanti, Indonesia merdeka.
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater"
Seperti yang Pak Anis Baswedan tulis dulu, para ibu di republik ini tidak pernah berhenti melahirkan anak-anak luar biasa. Disini saya lihat anak-anak luar biasa itu terjauhkan dari kesempatan karena keterpencilannya. Karena ternyata Republik ini belum mampu membayar janji merdekanya 65 tahun yang silam. Masalah negara kita memang banyak, banyak sekali. Jadi marilah mulai menyalakan lilin untuk menerangi hati yang gelap, menenangkan jiwa yang kalut, dan membunuh pasrah yang tumbuh. Sampai nanti, Indonesia merdeka.
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater"
Sedikit dokumentasi yang saya ambil dari akun facebook nya Ngkong :P
![]() |
| SDN Ambatu Pelita :) |
![]() |
| Kegiatan anak-anak SD selama proses belajar mengajar |
![]() |
| Di ujung jalan merupaka dermaga, satu-satunya akses keluar masuk Desa Pelita |
![]() |
![]() |
| Upacara bendera :D |
![]() |
| Kepala Sekolah SDN Ambatu Pelita beserta istri dan anaknya |








No comments:
Post a Comment