Sunday, April 18, 2010

Pengalaman di Panti Asuhan

Satu kata : LUAR BIASA.

Tadi di sela-sela pratikum hidraulika sungai (mekanika fluida) yang berlokasi di tepian Sungai Cikapundung, saya ijin sebentar kepada asisten untuk pergi ke panti asuhan. Dalam rangka apa? teman saya Bella dan Kak Citra merayakan ulang tahun bersama saudara-saudara di panti. Yak mereka memilih Panti Asuhan Kristen Dana Mulya di Cipaganti sana.

Jujur, baru sekali saya masuk dan berpartisipasi di Panti Asuhan Kristen, karena saya sendiri seorang muslim. Sangat menarik bagi saya, banyak pengalaman seru. Tapi di balik apakah saya Islam sedangkan mereka Kristen, jujur, saya merasa tidak ada perbedaan diantara kami. Entah mengapa saya tetap merasakan rasa kebersamaan, rasa kekeluargaan yang kuat disana ;).

Meskipun, saya sendiri hanya sebentar karena saya bersama Christine dan Putu harus kembali ke Cikapundung karena masih dalam pratikum. Namun, kebersamaan yang sesaat itu sangat mengimbas banyak hal kepada diri saya. Tadi saya sempat bermain bebentengan bersama mereka, main basket bareng, saya sempat berkenalan dengan hampir masing-masing dari mereka, bercengkrama, bercanda, berfoto-foto. Dan ya, saya terenyuh. Mereka begitu riang, gembira, tertawa lepas. Saya hanya merasa sungguh luar biasa. Mario, Makin, Fernandes, Gilbert, Tasya, Melita, Agus dan semuanya bisa tertawa begitu lepas padahal mereka mungkin tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya kerabat dekat, atau meskipun punya tapi mereka tidak diinginkan. Mereka juga hidup pas-pasan, karena meskipun (menurut saya) Panti Asuhan Dana Mulya termasuk panti yang berkecukupan di fasilitas namun tetap saja itu panti, tidak mungkin mereka hidup mewah disebuah panti.
Sedangkan saya, kita, yang masih punya dua orangtua, masih punya adik kakak, om tante, kakek nenek, tapi masih saja mengeluh setiap saat, masih aja gatel mau beli baju baru, sepatu baru, tas baru. Masih saja merengek meminta uang jajan lebih. Masih saya sebel kalau kemauannya tidak dituruti.

Saya pun sadar, betapa tidak bersyukurnya saya. Saya merasa kecil jika dibandingkan dengan mereka. Mario yang baru kelas satu SD dititipkan disana karena orangtuanya bercerai namun ayahnya hanya seorang tukang becak dan merasa tidak mampu menafkahi Mario. Tapi dia masih bisa tertawa dan bermain. Belum lagi mereka yang ditinggalkan sewaktu bayi di depan pintu panti, ;( Saya benar-benar terenyuh.

Sudahkah kita bersyukur saudara-saudara? Atau yang lebih tepat mungkin, sudah cukupkah rasa bersyukur kita?

Bella dan Kak Citra




Saya bersama Mario dan kawan-kawan
Bella, Neng, Christine dan Saya bersama saudara-saudara di panti

No comments:

Post a Comment